Tentang Seseorang

Malam ini, aku dan ibu duduk berdekatan di meja makan yang dialihfungsikan oleh ibu menjadi meja kerja. Tumpukan buku yang tidak bisa dikatakan rapi, ditemani dengan laptop yang masing – masing ada di hadapan kami. Ibu sedang sibuk mengerjakan laporan kegiatan mengajar, yang tiap ia kebingungan, selalu dia panggil namaku (mungkin karna itu, Allah memulangkan aku ke Jambi, di pertengahan Oktober lalu – agar bisa lebih banyak membantu ibu). Sedang aku, berkutat dengan ppt pelajaran kimia kelas X, yang esok akan aku ajarkan ke adik-adik les ku.

Dua wanita, dalam satu ruang. Apalagi yang bisa kami lakukan jika tidak membicarakan sesuatu? Kala itu, topik yang kami bahas adalah cerita asmara kakakku yang harus berakhir beberapa tahun terakhir. Jadi, izinkan aku mengenang sosok wanita ini, wanita baik yang semoga selalu Allah jaga dimanapun Ia berada.

………………

Aku mengenalnya saat aku masih SD, ia bertemu dengan kakakku di SMA boarding yang ada di Jambi, lokasinya kebetulan ada di depan MAN ku. Aku lupa bagaimana ceritanya mereka pacaran, yang aku ingat hanya suasana saat Ia bercerita, di kamar depan rumahku dengan lampu kamar yang sudah dimatikan Ibu, lantaran sudah waktunya kami untuk tidur.

Sebagaimana pasangan yang sedang dalam pdkt, tentu aku dan sekeluarga juga menjadi objek pendekatan mereka. Tapi saat itu, aku tidak berpikiran yang aneh – aneh, lantaran aku sudah kepalang senang karna akhirnya aku punya kakak perempuan. Dan cerita kami, dimulai dari sini.

Pertama kali aku diajak jalan olehnya ke Mall WTC, yang saat itu masih menjadi satu – satunya mall di Kota Jambi. Aku kemudian dikenalkan dengan teman – temanya. Kami pergi ke SOLARIA, kemudian nonton film garuda di dadaku yang saat itu sedang booming. Entah sudah aku utarakan atau belum padanya, saat itu adalah kali pertama aku makan di restoran tersebut sekaligus kali pertamaku masuk, duduk dan nonton di bioskop.

Setelah itu, aku semakin dekat dengannya. Tak terhitung sudah berapa banyak model, bentuk, rasa coklat yang sering Ia berikan untukku yang dititip ke kakak. Aku jadi saksi mereka, ternyata cinta monyet mereka tidak hanya membahagiakan diri mereka saja. Tapi juga keluarga kami di rumah.

Tapi saat itu aku belum tahu, bahwa yang mereka lakukan adalah salah.

Aku sudah terlanjur sayang padanya, pun ibu juga merasakan yang sama. Sering kudengar cerita mengenai kakak yang mengantarnya pulang memakai motor butut yang dulu sering kali kakak bawa kemana mana. Jarak rumah kami dan rumahnya jauh sekali, rumahnya di desa, sedang kami di kota. Entah berapa banyak waktu yang kakak habiskan untuk mengantarnya pulang. Tapi aku yakin, kakak pasti tidak capek. Karna aku tahu, cinta itu kuat sekali pengaruhnya.

Cerita mereka berlanjut hingga mereka sama – sama melanjutkan kuliah di pulau Jawa. Yang kali ini, setiap mereka pulang, brownies Amanda pasti selalu dibawa. Kalaupun Ia tidak sempat mampir ke rumah kami, pasti oleh – oleh Amanda selalu mampir di kulkas rumah.

Sampai suatu ketika, di samping rumah, di atas ayunan, siang hari yang aku lupa kapan waktu kejadiannya, aku dan Ia sedang duduk – duduk bersama, bercerita. Aku hanya ingat saat aku bertanya soal hubungan Ia dan kakak.

"Kalau tidak jodoh, bagaimana?"

Ia terdiam sesaat. Kemudian menjawab yang kurang lebih meminta aku mendoakan hubungan mereka. Barangkali saat itu aku sudah masuk MAN, sehingga aku sudah mulai bisa membedakan mana yang seharusnya dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan oleh seorang muslim.

Waktu berjalan, dan terus berjalan hingga akhirnya aku dan anak angkatanku di MAN akan mengadakan study tour, Kota Jogja dengan UGMnya tentu menjadi salah satu destinasi kami. Kakakku yang kuliah di salah satu PTN di Jogja kemudian datang ke tempat penginapan untuk menculikku. Kami pergi ke cafe, aku beli coklat panas yang ternyata pahit rasanya, pergi ke beringin kembar, pergi ke tugu jogja yang terkenal itu, dan yang terakhir ke rumah saudara kakek. Perjalanan menuju rumah saudara kakek, sangat tenang, banyak sawah di kanan dan di kiri, aku sempat melihat kunang – kunang di jalanan tersebut. Indah bukan main. Di perjalanan yang lama itu, tak lupa aku tanyakan bagaimana kabarnya-kakak perempuanku. Namun, kakak memilih untuk tidak membahas mengenainya. Aku berontak, disusul dengan bentakan kakak. Lantas aku memilih diam, dan air mata jatuh tanpa diminta.

Waktu berlalu, dan keluargaku sudah mulai menerima bahwa hubungan mereka sudah hilang entah kemana. Sekitar tahun 2017, aku mencoba menghubungi Ia. Dengan niat silaturahim, dan menanyakan kabar. Namun yang kudapatkan adalah jawaban maaf, disusul dengan permintaan agar aku tidak menghubunginya lagi. Aku menangis, menangis dan menangis karna sesak yang aku rasakan, yang barangkali tidak ada apa – apanya dibanding perasaan sakit yang ia rasakan.

……………

Kini, kakakku sudah menikah, sudah punya bidadari kecil yang menjadi objek keisengan kakak. Kakak tinggal di kota lain. Tentu bukan dengan Ia kakak menikah. Obrolan mengenai Ia tak pernah terucap dari mulut kakak, sejak aku bermain ke Jogja kala itu.

……………

Aku dan ibu masih duduk di kursi kami masing – masing, Ibu meminta aku agar mencari tahu apa kabar Ia. Untungnya semua jejak digital tersimpan baik di mesin pencarian, sehingga tidak sulit mencari informasi mengenai dirinya. Dari video yang terakhir ia unggah di channel youtubenya, kulihat Ia tampak sehat, meski saat ini ada jerawat di wajah manisnya. Dari blognya, aku melihat ia telah menjadi wanita dewasa, yang kuyakin dunia tidak akan mampu mengalahkannya.

Dari cerita hidupnya, semakin besar rasa syukurku, semakin menguat semangatku. Dari kebaikannya, aku dapati kasih sayang meski sekarang tuannya telah hilang. Dari senyumnya, aku yakin cerita hidupnya akan menjadi luar biasa. Dimanapun Ia berada, semoga Allaah pertemukan Ia dengan imam terbaik yang mampu menghapus semua kesedihan di hidupnya.

Jambi, 13 November 2020

Ditulis di kamar tengah, ditemani air mata yang susah berbohong.

p.s. jangan pacaran sebelum menikah, karna yang nanti sakit bukan cuma kalian saja, namun juga orang – orang yang ada di sekitar kalian 🙂 semoga ada hikmahnya ya:((

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s